Kala Warna Warni Cahaya Membalut Berlin

44 views

Kala warna warni cahaya membalut Berlin

Ribuan spektrum cahaya jatuh di dinding luar Berliner Dom, gereja katedral tertua di Berlin, Jerman, Sabtu (14/10) malam.

Cahaya itu bukan cuma bergerak, menari dan mengikuti irama musik, melainkan juga membuat ilusi seolah dinding kokoh gereja itu runtuh, terbakar atau terbelah menjadi dua bagian.

Berkumpul, menyebar dan pecah seketika cahaya di dinding itu yg mewarnai hitamnya malam.

Kreasi cahaya itu ditampilkan oleh para seniman dunia dari berbagai negara, termasuk Indonesia dalam ajang tahunan The Festival of Lights 2017 in Berlin.

Masing-masing seniman memamerkan keahliannya dalam mengatur komposisi cahaya, baik gerak maupun warnanya di media yg tak datar itu.

Latar belakang langit Berlin yg gelap gulita di malam hari yg ditabrak dengan warna-warni cahaya di Berliner Dom menyajikan pemandangan yg kontras nan indah.

Bangunan gereja yg identik dengan gelap di malam hari, kali ini tak demikian, cahaya berlari ke sana ke mari menampilkan pemandangan yg tak biasa.

Bangunan bersejarah itu tampak hidup dengan adanya refleksi cahaya yg membuat pengunjung enggan melewatkan pertunjukan hingga selesai.

Masing-masing seniman menujukkan kebolehannya dengan mengawinkan komposisi cahaya dengan alunan musik yg berdurasi tak lebih dari beberapa menit.

Setiap pertunjukan cahaya memiliki makna berbeda-beda, akan dari peringatan mulai ancaman pemanasan global hingga kampanye buat merangkul perbedaan yg ada di sekitar kita.

Kesempatan buat memenangkan lomba juga bukan cuma bagi seniman, tapi juga pengunjung mampu mengikuti lomba foto gedung-gedung yg berlapis cahaya itu.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2005 hingga menginjak di tahun ke-13 ini, The Festival of Lights in Berlin, tak pernah sepi pengunjung.

Baca :  Jilbab Sederhana A La Okky Asokawati

Para pengunjung baik warga lokal, maupun yg sengaja tiba dari berbagai negara tidak mau melewatkan ajang yg cuma diselenggarakan setahun sekali itu.

Berbagai kalangan memenuhi setiap area pertunjukan cahaya yg letaknya tak berjauhan, jadi mampu dijangkau dengan berjalan kaki.

Bukan cuma di Berliner Dom, pantulan sinar warna-warni itu juga dapat dilihat di bangunan bersejarah lainnya, merupakan Bradenburg Gate, Fernsehturm, Humboldt Universitat zu Berlin, Markisches Viertel, Postdamer Platz dan lainnya.

Festival of Lights in Berlin digelar akan dari 6-15 Oktober 2017 dan dapat dinikmati pukul 19.00 s.d. pukul 21.30 waktu setempat atau dapat lebih lama lagi apabila akhir pekan.

Pengunjung disarankan tak meninggalkan pertunjukan hingga selesai karena biasanya langit Berlin kembali dimeriahkan dengan warna-warni kembang api.

Tidak cuma di depan gedung, pengunjung juga dapat menikmati kilauan cahaya di perahu mengingat Berlin itu sendiri dikelilingi kanal yg tertata dan indah.

Salah sesuatu pengunjung yg ditemui di depan Humboldt Universitat zu Berlin, Dzaif Taufik menyampaikan setiap tahun Festival of Lights in Berlin menampilkan teman yg berbeda-beda.

Biasanya, kata dia, seni cahaya itu menampilkan sejarah Jerman, seperti runtuhnya Tembok Berlin pada 1990.

“Saya baru tiba ke sesuatu spot, belum berkeliling semuanya, kalau tahun dulu itu temanya lebih bagus dan lebih dark karena ada semacam dementor seperti di film Harry Potter di tiang-tiang ini,” ujar mahasiswa yg sedang menempuh studi di Hoshchule fur Technik und Wirstscaft Berlin itu.

Pria yg telah bermukim di Jerman selama enam tahun itu mengaku tak melewatkan kesempatan ajang tahunan yg biasanya dipadati jutaan pengunjung itu.

Dia menambahkan setiap hari pertunjukannya berbeda-beda dengan karya seni dan karakter yg berbeda pula.

Baca :  "Danur" Berkawan Dengan Hantu

Penghargaan tinggi terhadap seni

Pengunjung yang berasal Indonesia yg kebetulan sedang melawat ke Jerman, terutama ke Kota Berlin, Siti Maulia Rizki, sengaja tiba ke Festival of Lights 2017 in Berlin.

Bukan tanpa alasan, selain memang tertarik dengan pertunjukan cahaya yg unik, pengunjung sama sekali tak dipungut biaya buat dapat menikmati karya seni tersebut.

“Mumpung ke sini kapal lagi dapat menyaksikan event ini, meski Siti enggak begitu mengerti, tetapi Siti menikmati,” ujar Siti Maulia Rizki, Guru Bahasa Inggris yang berasal Aceh itu.


Menurut dia, Jerman yaitu salah sesuatu negara yg warga negaranya memiliki penghargaan tinggi terhadap seni.

Siti menceritakan pengalamannya yg mengunjungi dua museum dan situs sejarah lain, akan dari Berlin, Frankfurt hingga ke kota kecil Gottingen.

Museum sangat ditata rapi, benda-penda peninggalan akan dari abad ke-9 masih dirawat dengan baik dan sangat ramai dkunjungi.

“Ajang ini memperlihatkan apresiasi terhadap seni itu tinggi dan pemahaman mereka sangat luas, ini mungkin yg jarang sekali ditemukan di Indonesia, tetapi kalian juga bangga ada wakil dari Indonesia yg mampu bersaing,” ujarnya.

Lain lagi dengan Marella Al Faton yg menilai ajang semacam Festival of Lights in Berlin, selain sebagai media pujian terhadap seni juga memberikan ruang buat mengasah kreativitas anak muda.

Pasalnya, mereka ditantang buat menampilkan karya seni cahaya di media tidak datar, merupakan dinding bangunan yg juga mempunyai nilai historis.

Selain itu, ajang demikian dapat mendongkrak jumlah wisatawan baik dalam maupun luar negeri, sehingga dapat menjadi ikon pariwisata suatu negara.

“Biasanya bangsa yg maju adalah bangsa yg menghargai karya seni dan sejarahnya,” ujar peneliti bidang politik Universitas Indonesia itu.

Baca :  Boyolali Libatkan Krakatau Reunion Promosi Di Moskow

Dia berharap di Indonesia ada ajang semacamnya atau ajang-ajang lainnya yg mampu menggugah rasa cinta warganya, terutama anak muda terhadap karya seni serta lebih memahami sejarah negerinya sendiri. 

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com
Hiburan

Tags: #Hiburan

Leave a reply "Kala Warna Warni Cahaya Membalut Berlin"

Author: 
    author