Ketika Hubungan Dengan Kekasih Tak Direstui Orang Tua

86 views

Ketika Hubungan dengan Kekasih Tak Direstui Orang Tua

Jakarta, Saya telah pacaran empat tahun tetapi orang tua aku tak merestui hubungan kita buat ke jenjang selanjutnya. Setahu aku alasan orang tua karena kekasih aku ini duda beranak 3 dan pernah mendapat cerita negatif tentangnya

Saya telah berusaha bagi menjelaskan dan lebih mengenalkan orang tua ke kekasih tapi orang tua aku tetap pada pendiriannya. Setiap kali aku ajak kekasih ke rumah, orang tua buru-buru masuk kamar dan tak membuka pintu seandainya aku ketuk.

Lalu keluarga besar pun sama sekali tak mendukung. Akhirnya aku kesal dan aku jadi menutup diri. Sepulang kerja, aku segera masuk kamar dan tak lagi bergabung dengan keluarga. Saya pun cuma berbicara sekadarnya dengan orang tua dan keluarga.

Ricka (Wanita, 22 tahun)

Jawaban

Hai Ricka,

Berhubung tak ada pertanyaan yg Anda ajukan, aku anggap Anda ketika ini cuma membutuhkan tempat buat menuangkan perasaan Anda. Kalau begitu, aku juga cuma mulai bercerita mengenai pengalaman aku dalam menangani perkara seperti ini ya.

Memang sampai ketika ini masih saja ada keluarga yg memiliki kehawatiran saat anaknya dekat dengan janda atau duda. Seringkali kekhawatiran tersebut membuat Anak merasa orang tua ‘menutup jalan’-nya bagi berbahagia, sehingga muncul lah perasaan-perasaan tak dimengerti, diperlakukan tak adil, tak diberi kesempatan. Biasanya ini ditandai dengan seringnya perasaan kecewa, kemarahan, dan tak berdaya. Perilaku Anda yg akhirnya lebih suka menutup diri dapat saja terjadi karena alasan-alasan tersebut.

Lalu, apakah boleh marah dan kecewa? Pertanyaan ini tidak jarang sekali diajukan. Saya termasuk orang yg yakin tak ada emosi yg boleh dirasakan dan tak boleh dirasakan. Semua emosi utama dan memiliki manfaat sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang dan bersifat netral. Kemarahan biasanya diperlukan agar seseorang bisa mengubah atau menghindari kondisi yg membuat kami tak merasa nyaman. Orang yg matang secara emosional mulai memahami bahwa kemarahan yaitu hal yg wajar, meski bukanlah solusi yg efektif. Itu sebabnya perlu mengenali lalu emosi yg ada, buat kemudian dikelola. Kemudian tanyakan pada diri sendiri bagaimana energi dari emosi yg ada mampu menjadi solusi yg efektif bagi persoalan kita?

Baca :  WHO Peringatkan Orang Tua Agar Waspadai Iklan Junk Food Yang Sasar Anak-anak

Di sisi lain, aku coba buat memahami posisi orang tua. Meskipun ketika ini yg Anda berpikir penolakan orangtua terjadi karena mendengar berita negatif tentang pasangan Anda, biasanya ada banyak sekali alasan-alasan yang lain yg lebih mendasar dan tak terungkapkan. Pada banyak kasus, seringkali kekhawatiran orang tua adalah perkawinan anaknya berakhir seperti pernikahan Duda tersebut sebelumnya. Misalnya, mengalami usia perkawinan yg singkat dan berakhir dengan perceraian.

Selain itu, keberadaan anak juga biasanya menjadi salah sesuatu sumber kekhawatiran orangtua. Kalau Anda ketika ini telah menjalin hubungan selama 4 (empat) tahun, berarti Anda masih berusia 18 tahun ketika memulai hubungan tersebut. Orang tua tentu memahami bagaimana mengasuh anak-anak bukanlah hal yg mudah. Apakah anak aku telah dapat mengurus anak, mengurus diri sendiri saja belum bisa? Bagaimana seandainya anak aku nanti tak bahagia? Bagaimana seandainya nanti anak-anak tak menyukai anak saya? , dsb. Tentu saja banyak alternatif alasan yang lain yg mampu Anda cari tahu juga melalui saudara-saudara Anda.

Tidak adil tentunya meminta Anda bagi memahami perasaan ini. Saat ini mungkin yg terpikir adalah seandainya orangtua menginginkan Anda berbahagia, kenapa justru perilakunya membuat Anda menjadi tak bahagia. Suatu hari nanti Anda mulai memahaminya sendiri setelah menjalani peran sebagai orang tua bahwa semakin banyak kekhawatiran orang tua, biasanya semakin besar pula kasih sayang mereka kepada anaknya, meski caranya belum tentu sesuai dengan cara kalian ingin dicintai.

Kekecewaan, kemarahan dalam diri biasanya menutupi buat merasakan kasih sayang ini. Yang perlu diketahui adalah orang yg bersedia menerima duda dengan anak biasanya karena ia adalah seseorang yg memiliki kasih sayang yg besar dalam dirinya. Dan anak yg memiliki kasih sayang begitu besar, biasanya juga karena ia terbiasa mendapatkan kasih sayang yg juga besar dari sekeliling mereka, entah disadari atau tidak. Jadi, tetap beri orangtua kesempatan bagi berproses juga.

Baca :  Cara Asyik Untuk Membakar Lebih Banyak Kalori

Ketika menikah dengan duda, orangtua memang biasanya membutuhkan keyakinan bahwa duda tersebut memang sungguh-sungguh orang yg baik dan pantas buat anaknya. Dalam situasi ini, perilaku yg menutup diri malah dapat dianggap sebagai ‘pengaruh buruk’ dari pasangan, meski faktanya dapat saja berbeda. Tetap jalin komunikasi dengan orang tua. Tidak harus membicarakan hubungan kok, mampu juga cuma sekedar membahas keseharian atau apapun yg menarik bagi didiskusikan bersama. Barangkali dari situ anak dan orangtua jadi dapat sama-sama belajar memahami.

Namun, di luar bagaimana meyakinkan orangtua, orang yg ingin menikah tentu saja perlu percaya terhadap diri sendiri. Memiliki pasangan duda dapat menjadi kelebihan saat dapat mengetahui bagaimana kehidupan mereka saat menikah, pola mereka dalam berkomunikasi, menyelesaikan permasalahan, bagaimana mereka belajar dari kegagalan. Hanya saja memang hubungannya mulai lebih kompleks dan membutuhkan persiapan yg lebih matang, terutama mengenal si duda sebagai calon suami.

Mengevaluasi hubungan secara berkala juga tak kalah pentingnya, terutama pada hubungan yg ditentang oleh orang sekitar. Tidak jarang hubungan seperti ini kelihatan ‘kuat’, padahal sebenarnya karena merasa memiliki ‘musuh bersama’ jadi yg kelihatan cuma saling menguatkan, bukan hubungannya yg kuat. Evaluasi hubungan dari bagaimana kita saling mendukung dan menguatkan, apakah hubungan ini mampu saling mendewasakan, bagaimana menghadapi perbedaan, bagaimana menghadapi konflik, bagaimana mampu saling menghormati dan mengapresiasi, dsb

Kenali juga pasangan sebagai calon suami. Tidak cuma kebiasaan, rencana karir, bagaimana keluarganya tapi juga pengalamannya dalam pernikahan sebelumnya. Misalnya, seandainya ia duda karena bercerai, cari tahu apa yg membuat ia bercerai, bagaimana ia menanggapi persoalan yg membuat ia bercerai, pelajaran apa yg ia dapatkan agar persoalan yg sama tak terulang. Kenali juga bagaimana hubungan dengan mantan istri atau mertua, karena dalam masalah duda cerai, seandainya masih ada permasalahan antara mantan istri suka tak suka mampu membawa persoalan ke dalam hubungan baru yg sedang dijalani.

Baca :  Perjuangan Edi, Buruh Pabrik Di Cakung Yang Merawat Anak Dengan Gangguan Hati

Jika ia duda karena istrinya meninggal, cermati juga apakah ia telah mampu move on dari istrinya. Hal ini mampu dilihat dari bagaimana ia bercerita tentang masa lalu-nya. Apakah ia masih menampilkan kesedihan, kemarahan atau emosi-emosi yg cukup intense? Atau ia telah dapat bercerita dengan emosi yg dianggap wajar saat sedang mengenang seseorang. Kenali juga bagaimana respon diri sendiri saat pasangan bercerita tentang istrinya yg telah tiada, bagaimanapun istrinya adalah orang yg pernah sangat berarti dalam hidupnya.

Selain pasangan, kenali juga anak-anaknya. Entah anak ini mulai tinggal bersama anda atau neneknya, tetap saja mereka adalah anak-anak dari pasangan Anda yg berarti juga Anda mulai terlibat dalam kehidupan mereka. Setiap usia memiliki tantangannya sendiri. Bukan cuma persoalan Anda diterima atau tak diterima oleh anak-anaknya tapi apakah Anda telah siap, di usia Anda, menjadi ibu dari 3 orang anak? Apakah telah bersiap bagi memperlakukan dan mencintai mereka seperti anak kandung sendiri?

Jika telah percaya terhadap diri sendiri dan pasangan; telah mengenal meyakini dan bersedia menjalani konsekuensinya menikah dengan duda, Anda mampu minta bantuan dari orang yg dihormati oleh orangtua yg mampu menjembatani. Kalaupun nanti orangtua tetap menolak, bukan berarti mereka mulai selalu menolak. Menerima perubahan juga membutuhkan proses dan waktu. Jika telah akan putus asa, ingatlah bahwa saat Anda menikah nanti, Anda tak cuma menjadi istri, tapi juga seorang Ibu. Dan buat menjalani keduanya membutuhkan banyak kelapangan dan kebesaran hati. Jadikan proses ini sebagai proses pembelajaran yg bisa mendewasakan sebagai bekal buat menjalani pilihan Anda nantinya.

Selamat berjuang.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/up)
Sumber: http://health.detik.com
Kesehatan

Tags: #Kesehatan

Leave a reply "Ketika Hubungan Dengan Kekasih Tak Direstui Orang Tua"

Author: 
    author