Kisah Paulus Bisa ‘Bangkit’ Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML

Kisah Paulus Bisa ‘Bangkit’ Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML

Jakarta, Tubuh Paulus Maria Bagus Setiantoko (45) makin kurus di tahun 2005. Memang, porsi makannya sedikit sampai-sampai sang istri mengira Paulus kerap membeli makan di luar rumah.

“Nggak ada gejala yang lain dan karena kebetulan aku banyak kenalan dokter, aku disarankan periksa darah. Kemudian diketahui limpa aku bengkak. Akhirnya sampai tiga kali dites termasuk Bone Marrow Puncture (BMP), aku didiagnosis CML (Chronic Myeloid Leukemia). Nggak yakin ya ketika itu,” kata Paulus.

Ketika berbincang dengan detikHealth usai diskusi bersama Himpunan Masyarakat Peduli Elgeka baru-baru ini, Paulus menyampaikan ia sempat drop tiga bulan setelah didiagnosis. Kala itu, sang istri tengah mengandung anak keduanya dan anak pertama Paulus masih berusia 6 tahun.

“Pikiran aku waktu itu udah takut matilah, anak masih kecil. Kalau keluarga jangan ditanya, pada nangis, takut, khawatir,” ujar pria yg kini menjadi wakil ketua Himpunan Masyarakat Peduli ELGEKA Indonesia (Elgeka) Nasional ini.

Namun, ia berusaha bangkit. Selain keadaan tubuhnya yg akan membaik, Paulus coba mengubah pola pikirnya bahwa di luar sana masih banyak orang yg lebih kurang bisa dibanding dia, berkaca bahwa kala itu Paulus masih memiliki pekerjaan sebagai tour leader. Begitupun sang istri yg juga masih bekerja.

Baca juga: Didiagnosis CML Saat Berumur 6 Tahun, Given Tetap Semangat dan Ceria

Untuk konsumsi obat, empat sampai lima bulan pertama Paulus menghabiskan biaya sekitar Rp 30 juta per bulan. Uang tabungan sampai bantuan dari keluarga digunakan buat dapat mengcover biaya obat. Sampai akhirnya Paulus telah kewalahan membeli obat, ia mengikuti program Glivec International Patient Assistance Program (GIPAP).

Baca :  Hanya Berolahraga Di Akhir Pekan? Peneliti Sebut Tidak Masalah

Sejak ketika itu, biaya pengobatan dirasa Paulus telah lebih ringan. Sampai ketika ini, Paulus tetap rutin mengonsumi imatinib mesylate 400 mg. Memang, sering kala timbul rasa bosan buat minum obat. Namun, Paulus menyiasatinya dengan menamamkan mindset bahwa memang ia tak memiliki pilihan lain. Sebelum diberi imatinib, Paulus juga pernah coba berbagai tanaman herba yg meskipun tidak membuahkan hasil.

Dengan keadaan yg stabil meskipun mengidap CML, Paulus mampu tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, termasuk bekerja di lapangan. Ia pun tak pernah dirawat di RS dan merasa seperti orang yg tidak kena CML.

Kini, dengan prinsip 5R Paulus merasa kondisinya lebih baik lagi. 5R tersebut adalah Rutin berdoa dan bersyukur pada Tuhan, Rutin konsumi obat, Rutin kontrol ke dokter, Rutin menjalani pola hidup sehat, Rutin berbagi dan menopang teman-teman survivor.

“Sekarang keadaan aku telah normal, ya ini segala berkat pertolongan Tuhan ya. Pernah lho aku nangis waktu lagi berdoa karena aku sadar bahwa Tuhan kasih cobaan nggak lebih dari kemampuan kita. Hidup kalian kan di tangan Tuhan. Jadi ya kalian memang harus berupaya. Selama masih hidup, berjuanglah,” kata pria yg kini memiliki bisnis kuliner bersama keluarganya.

Baca juga: Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Kesehatan

Tags: #Kesehatan

Leave a reply "Kisah Paulus Bisa ‘Bangkit’ Setelah Sempat Drop Pasca Didiagnosis CML"

Author: 
    author