Manuskrip Sapardi Djoko Damono, Dari “sampah” Jadi Harta

32 views

Manuskrip Sapardi Djoko Damono, dari “sampah” jadi harta

Jakarta (ANTARA News) – Penyair Sapardi Djoko Damono baru launching buku terbaru, Manuskrip Sajak, yg berisi sekitar 200 kumpulan manuskripnya pada periode 1958 hingga 1970-an.
Sebelum mengenal mesin tik dan komputer, Sapardi mengandalkan buku tulis bergaris sebagai tempat menuangkan ide dalam otaknya menjadi sajak-sajak yg nantinya dikirimkan ke media massa atau dibukukan.
Biasanya manuskrip berujung di tempat sampah, apalagi yg telah berusia puluhan tahun. Tapi Sapardi secara tak sengaja selalu menyimpannya.
Rupanya manuskrip itu bercampur dengan buku-bukunya, koleksi yg terus jadi prioritas setiap kali berpindah tempat tinggal. Maka manuskrip itu tak tercecer meskipun rumahnya berpindah dari sesuatu kota ke kota lain, akan dari Solo, Madiun, Semarang hingga Jakarta.
Manuskrip itu terabaikan hingga akhirnya diabadikan dalam buku Manuskrip Sajak yg disusun desainer grafis, Indah Tjahjawulan.
“Ini khan sebenarnya sampah, tetapi beliau (Indah) susun jadi buku yg sangat indah,” seloroh Sapardi dalam peluncuran, Manuskrip Sajak, di Indonesia International Book Fair 2017, Kamis.
Manuskrip itu juga sempat dipamerkan di Makassar International Writers Festival. 
Setelah diwujudkan dalam bentuk buku, Sapardi jadi lebih apik dalam menyimpan manuskrip-manuskrip yg jadi harta karun untuk para pencinta karyanya.
“Setelah tahu begini ya aku simpan, nanti dicuri orang. Kalau mau beli boleh, Rp10 miliar,” seloroh dia.
Sapardi mengenang masa-masa saat ia masih rajin menulis sajak di buku bergaris. Saat mulai dikirimkan ke penerbit, barulah dia pergi ke kantor ayahnya bagi meminjam mesin tik, kemudian mengirim hasil ketikan ke penerbit atau majalan.
Seiring perkembangan teknologi, tulisan tangannya yg khas miring ke arah kiri itu akan diganti dengan ketikan di keyboard komputer.
Tidak ada lagi jejak-jejak manuskrip yg memamerkan perkembangan pola pikirnya sebagai penyair dari masa ke masa. 
Namun, saat ditanya mana yg dia pilih antara menulis tangan, mesin tik dan komputer, Sapardi menjawab dengan tegas dan singkat.
“Komputer!” ucapnya yg segera menuai tawa dari para hadirin di di Indonesia International Book Fair 2017.

Editor: Ade Marboen

Baca :  100 Vendor Pernikahan Hadir Di Wedding Fair

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com
Hiburan

Tags: #Hiburan

Leave a reply "Manuskrip Sapardi Djoko Damono, Dari “sampah” Jadi Harta"

Author: 
    author