Masakan Palembang “Tempo Doeloe” Tersaji Di Sarinande

81 views

Masakan Palembang “Tempo Doeloe” Tersaji di Sarinande

PALEMBANG, KOMPAS.com – Masakan khas Palembang tentu saja bukan cuma pempek. Namun, seandainya ditanya, dulu apakah masakan khas lainnya dari Palembang?

Salah sesuatu jawabannya dapat diperoleh dengan menyambangi tempat bernama Sarinande.

Ketika mendatangi Sarinande, muka restoran ini lebih mirip rumah makan padang yg umumnya memiliki etalase dengan tumpukan aneka lauk.

(BACA: Ikan Seluang Goreng Khas Palembang, Garing dan Gurih…)

Namun, kata-kata “tempo doeloe” di spanduk depanlah yg membuatnya berbeda.

KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU Sate pentul di Rumah Makan Sarinande, Palembang, yaitu olahan dari ikan belida yg digoreng.

Ini yaitu restoran yg menjanjikan masakan “tempo doeloe” karena memang telah tercatat dari lidah ke lidah sejak tahun 1957.

“Kakek awalnya tahun 1957 jualan di Jalan Sudirman, tapi belum berbentuk rumah makan begini. Dulu cuma lemari dan menumpang di rumah orang,” ujar Yusuf Rhandy, pengelola Sarinande.

Namun, dari situ, misalnya, orang telah akan mencari pindang patin buatan sang kakek, H Abdul Hamid.

Kalau olahan ikan patin biasanya bercitra amis, sajian di Sarinande ini membuat anggapan itu pupus. Bau amis tak ada sama sekali, dan semuanya menyatu dalam wadah dan sajian ala tom yam Thailand.

KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU Cung ikan teri, lalapan dari tomat ceri dengan kuah pedas salah sesuatu menu di Rumah Makan Sarinande, Palembang.

“Patin yg ini dari sungai, bukan tambak. Memang kalau ikan liar kan amis. Tapi ini setelah dapat, kalian bersihkan sebersih mungkin dengan air panas yg disiramkan. Karena patin tak bersisik, jadi kalian sikat saja sampai bersih selaput luarnya,” kata Yusuf membeberkan caranya menghilangkan bau amis itu.

Baca :  Penggemar "Selfie", Ini 4 Kampung Warna-warni Di Indonesia

Sajian berharga Rp 40.000 per porsi yg dapat disantap 2-3 orang itu hadir bersama dengan aneka masakan olahan ikan lainnya yg tak kalah unik.

Misalnya, ada ikan lais goreng bumbuh cabai hijau yg munculnya tergantung musim, ikan belida yg diolah jadi sate pentul mirip otak-otak goreng, sate ikan dari bahan sama tapi bahkan bukan berbentuk sate melainkan pepes, serta ada pula cung (tomat ceri) kuah pedas.

KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU Jus naga merah yg dibuat dari buah naga murni dan adukan gula di Rumah Makan Sarinande, Palembang.

Jika asumsi awal pada masakan ini adalah pedas dan penuh rasa, maka faktanya masakan tempo doeloe di Sarinande lebih ke rasa asli dari bahan makanan, dan segar.

Kesegarannya mengimbangi aneka jus yg ditawarkan, misalnya jus naga merah (buah naga) dengan warna yg sangat pink dan dijual seharga Rp 20.000 per gelas.

KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU Pindang patin tersaji ala tom yam dengan daging ikan yg tak amis di Rumah Makan Sarinande, Palembang.

Mengenai nama “Sarinande” sendiri, ada cerita lucu di belakangnya. Nama itu sebenarnya adalah nama rumah orang yg ditumpangi oleh sang kakek buat berjualan.

Namun, karena orang-orang terus bilang ingin makan pindang di rumah Sarinande, maka jadilah nama itu ikut keliling bersama sang kakek, dulu turun ke ayah Yusuf, dan kini di tangan Yusuf.

Rumah Makan Sarinande era Yusuf sendiri berdiri sejak 2012 terletak di Jalan Mayor Ruslan, Palembang, dengan jam buka dari pukul 09.00 hingga 21.00.

KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU Rumah Makan Sarinande, rumah makan sederhana yg bersejarah di Palembang.

“Kalau Minggu kalian hanya buka sampai pukul 16.00. Iya, soalnya mau istirahat,” ujar Yusuf sang pemilik, yg walau belum menutup tempat makannya malam itu, tapi telah kehabisan ikan lais goreng bumbu cabai hijau.
Sumber: http://travel.kompas.com
Wisata

Tags: #Wisata

Leave a reply "Masakan Palembang “Tempo Doeloe” Tersaji Di Sarinande"

Author: 
    author