Menelusuri Jejak Kuliner Peranakan Tionghoa Di Pesisir Utara Jawa

106 views

Menelusuri Jejak Kuliner Peranakan Tionghoa di Pesisir Utara Jawa

detikTravel Community –  

Kuliner peranakan Tionghoa tidak mengurangi kekayaan khazanah kuliner tanah air. Menelusuri jejaknya di pesisir utara Jawa menghadirkan pengalaman tersendiri buat traveler.

Tepat sebelum bulan ramadhan 2016, trio pengendara sepeda motor yg menamakan dirinya Indonesia Culinaride berada di jalanan pesisir utara Jawa, menyusuri jejak kuliner peranakan Tionghoa. Beberapa spot kuliner peranakan di pesisir utara mampu mereka datangi, dua lagi terlewat.

Ada yg memang tak bisa dijangkau dengan waktu yg terbatas, ada pula yg baru diketahui setelah meninggalkan kota di mana spot itu berada. Beberapa makanan khas peranakan tionghoa juga tak gampang ditemui karena cuma dibuat pada hari tertentu saja.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Pati, Surabaya, Lamongan, Surabaya, Mojokerto hingga Malang. Di Malang mereka menjumpai sebuah rumah makan yg menulis di etalasenya menjual kue Moho.

Datang ke Malang pada hari Senin 9 Mei 2016, waktu mereka memang tak banyak. Rumah makan itu cuma menjual kue Moho pada hari Sabtu. Sayang sekali karena kue Moho adalah salah sesuatu makanan khas peranakan yg tak gampang dijumpai.

Di Semarang, Rabu 11 Mei 2016 kalian berkesempatan berbincang hangat dengan pak Jongkie Tio, seorang kolektor foto, pemerhati budaya dan pecinta kuliner kota Semarang sekaligus pengelola restoran Semarang. Beliau menyampaikan bahwa kuliner juga mencerminkan budaya dan sejarah sebuah bangsa.

Bangsa Tiongkok juga memakai masakan sebagai alat bersosialisasi dan negosiasi. Acapkali kalian mendengar orang saling bertegur sapa. “Hai kawan, apa kabar? Sudah makan atau belum?”

Seringkali juga sebuah konflik didamaikan di meja makan. Sebuah keputusan hebat diambil sesudah makan bersama. Hal itu memperlihatkan bahwa kuliner mendapat porsi yg utama dalam kehidupan manusia. Kuliner juga berperan dalam diplomasi antar bangsa.

Baca :  Wonderful Lndonesia Sambut Traveler Di Bandara Changi, Singapura

Beliau tertawa ketika mengetahui bahwa tim Indonesia Culinaride menyusuri sisi utara pulau Jawa dari barat hingga timur dalam waktu 10 hari. “Tidak cukup mas, menyusuri Semarang saja, 10 hari rasanya masih kurang.” ungkapnya.

Memang betul komentar beliau. Semakin mereka tahu, semakin banyak yg ingin lebih mereka ketahui. Pak Jongkie Tio bahkan berbaik hati memberikan daftar makanan khas peranakan Tiong Hoa atau makanan yg mendapat  pengaruh budaya Tiongkok yg wajib mereka liput.

Di antaranya adalah lontong Cap Go Meh, tahu item, bakso cawan, kuah cemplung, kue moho, enting gepuk, swikee, soto, tahu pong, Wingko, wajik, kue ku, onde-onde, kue keranjang, lunpia, bakpia, yangko, wedang ronde, mie titie, kompyang, bolang-baling, cakwe, tahwa hingga bacang. Sedangkan kue moaci sendiri menurut beliau adalah kuliner tamu karena sebenarnya kue moaci berasal dari Jepang dan dimodifikasi di Indonesia.

Wawancara akrab trio pengendara motor itu dengan pengrajin wingko legendaris di Babat Lamongan juga mengungkap dua hal yg luar biasa. Salah satunya saat mereka mendapat kiriman dari sebuah perusahaan tepung terkenal. Satu kontainer penuh!

Perwakilan perusahaan itu menyampaikan bahwa tepung mereka adalah 100% tepung ketan murni. Seperti dituturkan oleh Supriyadi Gondokusumo, penerus Wingko Babat generasi keempat itu menyanggupi. Singkat kata, pihak Loe Lan Ing membuat wingko mereka pada hari itu memakai tepung ketan dari merk yg terkenal di Indonesia tersebut.

Hasilnya di luar dugaan. Wingko yg mereka bagi berantakan dan tak dapat menyatu. Mereka mengirim seluruh wingko hasil masakan dengan tepung dari brand yg minta dirahasiakan namanya itu.

Rasa kecewa jelas terpancar dari wajah para pekerja dan pemilik Wingko Babat Loe Lan Ing. Pihak perusahaan tepung ketan itu tak ingin menyerah begitu saja, mereka mengirim ahli laboratorium mereka ke Babat, Lamongan dan bertemu dengan pihak Loe Lan Ing.

Baca :  Serius! Ini Tempat Wisata Yang Bikin Kamu Kaya Raya

Sebelum pengujian dikerjakan dengan sampel tepung yg tersisa di dapur, pihak Loe Lan Ing ingin membuat kesepakatan. Bila terbukti tepung itu adalah tepung ketan murni, mereka rela menutup usaha pembuatan Wingko yg sudah turun temurun sejak puluhan tahun lalu. Tetapi bila terbukti sebaliknya, ahli laboratorium itu mulai mundur dari perusahaan tempat ia bekerja. Sepakat!

Setelah diuji ternyata terbukti bahwa tepung yg didatangkan dari salah sesuatu negara Asia Tenggara ini  terbukti bukan tepung ketan murni. Berbeda dengan tepung ketan lokal yg terus diandalkan oleh pihak Wingko Babat Loe Lan Ing, tepung ketan hasil import ini mengandung campuran bahan lain. Itulah yg menyebabkan wingko yg mereka masak tak sempurna.

Merasa malu, akhirnya sang ahli laboratorium mengundurkan diri dan membuka toko bahan kue dan makanan. Kepada pihak Loe Lan Ing, secara pribadi ia menyampaikan mulai terus jujur dalam menjual bahan makanan kepada pelanggan yg tiba ke tokonya. Kisah itu mencerminkan bahwa kejujuran dan kepercayaan adalah hal yg utama di seluruh bidang termasuk dalam dunia kuliner.

Dalam perjalanan ini memang tim Indonesia Culinaride fokus dengan kuliner khas peranakan Tionghoa saja, karena di sepanjang pesisir utara Jawa, suku bangsa Tionghoa sudah menorehkan sejarah panjang sejak jaman sebelum Majapahit berdiri, hingga masa modern Republik Indonesia.

Kuliner peranakan Tionghoa menyebar dari ujung barat hingga timur pulau Jawa. Di Jakarta beragam masakan mampu ditemui akan dari Soto, Bakpia, Bandeng, Kue Keranjang, Kue Moci, ronde, hingga bakpao.

Indonesia Culinaride menyusuri kota-kota di pesisir utara buat melihat segera dan merekam bagaimana kuliner peranakan Tionghoa sudah menjadi makanan sehari-hari dan disantap oleh berbagai jenis suku bangsa di pulau Jawa. Mulai dari Tegal dengan teh poci dan bakpia, hingga kota Malang di Jawa timur dengan bakpao boldy yg terkenal.

Baca :  Ada Karang Bentuk Hati Di Maratua!

Tidak itu saja, mengandalkan tunggangan Suzuki V-Storm dan Inazuma dengan ban handal dari Michelin, mereka berkendara menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur bagi menelusuri sebaran kuliner peranakan dan sejarahnya.

Semoga hasil liputan yg dikerjakan oleh Indonesia Culinaride ini mampu menjadi panduan untuk para penikmat kuliner buat mengetahui apa, dimana, bagaimana, dan segala tentang kuliner peranakan Tionghoa di pesisir utara pulau Jawa. Nantikan kisah berikutnya tentang kuliner peranakan Tionghoa dari kota ke kota di pesisir utara pulau Jawa!

Sumber: http://travel.detik.com
Wisata

Tags: #Wisata

Leave a reply "Menelusuri Jejak Kuliner Peranakan Tionghoa Di Pesisir Utara Jawa"

Author: 
    author