Mengenal Osilasi Madden Julian, Si Pembawa Hujan

87 views

Mengenal Osilasi Madden Julian, si pembawa hujan

Kupang (ANTARA News) – Pengamat Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Ir Leta Rafael Levis menyampaikan hujan yg mengguyur Kota Kupang pada Senin siang yaitu dampak dari penguapan dan Osilasi Madden Julian (OMJ).

“Osilasi Madden Julian itu yaitu gelombang yg terjadi pada lapisan atmosfer di kawasan tropis dengan durasi 30 sampai dengan 90 hari dan mulai bergerak ke arah Timur dengan kecepatan rata-rata lima meter per detik,” katanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, terkait hujan lokal yg terjadi dalam Kota Kupang dan sekitarnya.

OMJ, lanjut Leta Levis, biasanya ditandai adanya awan-awan berskala super yg bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia. Daratan pertama yg disentuh oleh osilasi di Indonesia adalah Sumatera dahulu menuju kawasan Timur termasuk NTT.

“Buktinya pada Minggu (24/9) petang kemarin, di Pulau Lembata di ujung timur Pulau Flores itu juga terjadi hujan ringan karena dataran tersebut juga mengalami dampak OMJ,” katanya.

Dosen pada Fakultas Pertanian Undana Kupang itu menjelaskan, awal terbentuknya fenomena ini berasal dari Samudera bagian Barat (Afrika) dan mulai menghilang di sekitar kawasan tersebut setelah berkeliling dunia di sepanjang garis equator.

Ketua Penyuluh Pertanian NTT itu mengatakan, fenomena ini berlangsung sejak 14 September 2017, ditandai dengan Indonesia dilalui oleh pergerakan awan berskala besar dari Samudera Hindia.

Namun dari 18 September fenomena OMJ ini telah melemah dengan indeks kurang dari sesuatu sehingga tekanan rendah masih terjadi di Indonesia terutama di sekitar Sumatera dan Samudera Hindia.

Ia mengatakan, dengan adanya tekanan rendah terbentuk di Sumatera dan lautan sekitarnya, maka awan-awan hujan banyak terbentuk keadaan ini berpotensi terjadi hujan-hujan lebat di kawasan tersebut.

Baca :  Pinjaman Dana Rp 875 Miliar Garap Palapa Ring Barat Cair

Menurut dia, ketika ini posisi OMJ masih di atas Indonesia, yakni berada pada fase keempat dengan intensitas lemah, namun keadaan hujan seperti sekarang mampu saja berlangsung hingga 28 September 2017.

BMKG setempat sebelumnya memprediksi hujan dan mendung mulai terjadi di dua daerah di NTT, meski tak mengindikasikan NTT sudah memasuki musim hujan.

“Ini cuma karena suhu muka laut (SST) yg tinggi kisaran 29-30 derajat celcius yg berarti ada potensi penguapan (penambahan masa uap air) di Laut Timor, Laut Flores, Laut Sawu,” kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Bambang Setiatji di Kupang. 

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Sumber: http://www.antaranews.com
Teknologi

Tags: #Teknologi

Leave a reply "Mengenal Osilasi Madden Julian, Si Pembawa Hujan"

Author: 
    author