Penyakit Asma Dan PPOK Tinggi Karena Deteksi Belum Tepat

64 views

Penyakit Asma dan PPOK Tinggi karena Deteksi Belum Tepat

Jakarta, Asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah macam penyakit yg cukup tinggi jumlah pengidapnya di Indonesia dan mampu menyebabkan kematian. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, asma adalah penyebab kematian ke-13 di Indonesia.

Sedangkan buat penyakit PPOK sendiri berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2012 adalah penyebab kematian ke-6 di Indonesia. Tingginya angka ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat mulai gejala dan deteksi dari penyakit ini.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Prof Faisal Yunus, MD, PhD menyampaikan bahwa salah sesuatu faktor kurangnya kesadaran masyarakat mulai deteksi penyakit ini dikarenakan belum segala fasilitas kesehatan memiliki fasilitas pemeriksaan spiometri.

“Diganosis PPOK tanpa pemeriksaan spiometri, belum segala tenaga kesehatan menatalaksana sesuai pedoman. Serta sarana diagnostik belum tersedia di seluruh tempat,” ujarnya dalam temu media di Gedung Prof Sujudi Kementerian Kesehatan RI, Selasa (26/9/2017).

Baca juga: Aktivitas Gunung Agung Meningkat, Dokter Ingatkan Risiko Asma Kambuh

Prof Faisal juga mengutarakan bahwa masyarakat tak langsung melakukan pemeriksaan setelah mendapati gejala-gejala asma ataupun PPOK.

“Gejalanya sesak napas, batuk kronik, sputum,” imbuhnya.

Dikesempatan yg sama, dr Wahyuni Indawati, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penyakit ini terutama asma mampu terjadi pada seluruh usia, dari bayi hingga lansia.

“Batuk atau mengi yg bandel, berulang, lama sembuh, muncul setelah pencetus. Lebih berat pada malam hari, umumnya terdapat riwayat alergi. Jika gejala makin kadang dan berat disebut serangan asma,” katanya.

Baca juga: Dari Presiden Hingga Pesepak Bola, Ini 10 Orang Terkenal yg Mengidap Asma

(wdw/up)
Sumber: http://health.detik.com
Kesehatan

Tags: #Kesehatan

Leave a reply "Penyakit Asma Dan PPOK Tinggi Karena Deteksi Belum Tepat"

Author: 
    author