Wuling Vs Stigma Produk China

73 views

Wuling vs stigma produk China

Jakarta (ANTARA News) – Apa yg muncul di benak Anda saat pertama kali mendengar sebuah jenama yg berasal dari China? Maka mulai muncul stigma kualitas barang yg meragukan.
Stigma produk China perlahan tetapi pasti terkikis, terutama di sektor gawai yg memunculkan nama Xiao Mi dan Huawei bagi jenama lokal sana yg mendunia, maupun pilihan Apple merakit produk mereka di Negeri Panda.
Meski demikian, stigma masih tersisa kuat di sektor otomotif baik itu sepeda motor maupun mobil. Tentu saja tidak adil membandingkan sektor otomotif dengan sektor gawai yg harganya mungkin bahkan tidak mencapai 10 persen dari harga mobil atau tidak separuh harga sepeda motor.
Stigma buruk itu masih membekas lantaran pada pengujung 1990-an hingga awal 2000-an, sejumlah sepeda motor merek China sempat menjajal pasar Indonesia cuma buat tiba-tiba menghilang begitu saja, seperti yg dikerjakan Jialing dan kawan-kawan.
Stigma yg tersisa menjadi salah sesuatu tantangan terbesar untuk SGMW Automobile, sebuah perusahaan patungan antara BUMN China SAIC Motor Corporation Limited, General Motors dan Liuzhou Wuling Automobile Industry, yg masuk ke Indonesia sebagai PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) dan mengusung jenama dagang mobil Wuling.
Hadir perdana lewat Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 cuma dengan menunjukkan unit-unit contoh yg masih melekatkan roda kemudi di sisi kiri, Wuling Motors menegaskan ambisi besar mereka bagi betul-betul terjun di Indonesia.
Ambisi itu bermula dari peletakan batu pertama pabrik mereka di Kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC) Cikarang, Bekasi, 20 Agustus 2015, pabrik yg hampir beberapa tahun kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 120.000 unit per tahun, di antaranya memproduksi beberapa model yg mereka hadirkan sebagai produk debut di Indonesia yakni Wuling Confero dan Wuling Confero S, yg bersaing di segmen Low MPV, segmen dengan ceruk terbesar di pasar otomotif Indonesia.
Namun demikian apakah langkah besar Wuling merogoh kocek hingga Rp9 triliun bagi berinvestasi mendirikan pabrik di Indonesia serta merta menjadi peluruh stigma produk China yg mau tak mau melekat juga kepada mereka? Patut diikuti perjalanan mahal Wuling di Indonesia.
Investasi jadi bukti
Brand & Marketing Director Wuling Motors, Jason Ding, mengaku pihaknya menyadari keberadaan stigma produk China yg menjadi tantangan mereka, namun ketimbang melakukan hal-hal khusus buat menanggulangi hal tersebut, Ding menilai langkah mereka berinvestasi di Indonesia sejak beberapa tahun dulu telah menjadi jawaban tersendiri.
“Yang jelas kalian berusaha memamerkan dan meyakinkan bahwa kita ada di sini buat jangka panjang, bukan tiba dan pergi sesuka hati,” kata Ding ketika ditemui di sela-sela uji kendara Wuling Confero S di Bali, 11-13 Oktober 2017.
Ding juga menjelaskan bagaimana Wuling Motors melihat Indonesia tak cuma sebagai sebuah pasar otomotif potensial, melainkan lokasi yg tepat buat mengelola bisnis otomotif, termasuk melakukan kegiatan produksi dan menjadikannya sentra produksi bagi wilayah regional Asia Tenggara.
“Anda dapat lihat dari apa yg kita lakukan di sini sejak beberapa tahun lalu. Apa yg kita akan dan lakukan bagi jangka panjang. Kami juga menempatkan Indonesia sebagai lokasi produksi, bukan hanya bagi memasok pasar Indonesia, tapi segala Asia Tenggara,” ujarnya.
Ding maupun Wuling Motors sejauh ini belum mengungkapkan berapa lama waktu yg mereka targetkan buat membuat Indonesia betul-betul menjadi sentra produksi wilayah Asia Tenggara, yg tentunya mulai dimulai dengan momentum ekspor perdana entah kapan.
“Anda mampu lihat bagaimana kalian berinvestasi di sini, produksi di sini, membangun jejaring pemasok suku cadang, jaringan penjualan dan purnajual yg kalian bangun, itu segala memamerkan kita ada di sini bagi jangka panjang,” tegas Ding.
“Apa yg dapat kalian lakukan hanyalah memamerkan rekam jejak kalian dan melakukan yg terbaik,” ujarnya lagi, ketika ditanya apakah segala itu dapat serta merta mengubah pandangan masyarakat Indonesia terhadap jenama otomotif China, khususnya Wuling.
Ding juga menegaskan kembali pihaknya tidak melakukan strategi yg khusus buat pasar Indonesia ataupun bagi menghapus stigma buruk produk China.
Bagi Ding, seandainya pihaknya secara konsisten dan konstan melakukan langkah-langkah yg selama ini telah mereka lakukan, hal itu telah menjadi strategi tersendiri.
Jaringan dan purnajual
Confero dan Confero S memang menjadi mata pisau Wuling Motors membelah pasar otomotif Indonesia, namun ujung tombak mereka terletak pada jaringan penjualan serta layanan purnajual yg harus diprogramkan dan diramu sedemikian rupa buat menghadirkan kepercayaan dari pelanggan maupun calon pelanggan.
Wuling Motors menargetkan mereka mampu mengoperasikan 50 titik jaringan penjualan, yg telah meliputi trilayanan alias 3S (penjualan, perawatan dan suku cadang), di semua Indonesia hingga akhir 2017 dan menurut Direktur Purnajual Wuling Motors, Taufik S. Arief, hingga 11 Oktober 2017 dahulu telah 40 diler di antaranya sudah beroperasi penuh.
Diler trilayanan tersebut diharuskan telah memenuhi standard pelayanan yg ditetapkan Wuling Motors, termasuk upaya bagi menghadirkan suasana selaiknya diler-diler jenama otomotif yang lain yg telah mapan dan mumpuni di Indonesia seperti Toyota, Daihatsu dan Honda.
“Itu jadi strategi kami, maunya ambience seperti established brand, tetapi cost-nya tetap paling kompetitif,” kata Taufik yg juga mengklaim bahwa ongkos perawatan purnajual mereka paling kompetitif, berbekalkan harga suku cadang yg lebih murah 20 persen dibandingkan para pesaingnya di segmen Low MPV.
Wuling Motors tentu saja tak serta merta mengklaim harga suku cadang mereka lebih murah 20 persen. Sebuah survei internal yg membandingkan harga suku cadang Confero dan Confero S dengan harga suku cadang mobil-mobil Low MPV pesaing di Indonesia pada Kuartal I-2017, ditemukanlah angka tersebut.
Taufik mengakui harga suku cadang di semua merek cenderung dinamis dan dapat berubah-ubah hampir setiap bulan, bergantung dengan proses manufaktur, namun meskipun demikian ia berani mengklaim suku cadang mereka 20 persen lebih murah dari rata-rata harga suku cadang pesaing.
Berbekal angka 20 persen lebih murah tersebut, Taufik meyakini Wuling dapat membekas di ingatan calon pelanggan sekaligus menaikkan daya saing mereka di pasar otomotif Indonesia secara perlahan tetapi pasti.
“Karena kalian berpikir bahwa mungkin 20 persen itu telah melewati psychology effect ke konsumen kalau kalian itu murah. Kalau 10 persen di bawah ya mungkin itu belum terasa sebagai satu yg kompetitif, karena 10 persen saja kira-kira PPN segitu kan,” ujarnya.
Selain dengan harga 20 persen lebih murah, Wuling juga menggratiskan penggantian suku cadang selama sesuatu tahun atau 20.000 kilometer. Mereka menawarkan jaminan sepanjang tiga tahun atau 100.000 kilometer dengan jaminan eksklusif buat komponen-komponen penting mesin dan transmisi selama lima tahun atau 100.000 kilometer.
Durasi jaminan yg panjang, menurut After Sales Technical Wuling Motors, Vanda Dritanto, menjadi cerminan dari keyakinan Wuling mulai produk yg mereka pasarkan di Indonesia atau dalam kata yang lain bantahan terhadap stigma buruk yg melekat kepada produk China.
“Kalau kalian tak percaya dengan durability-nya, masa kami kasih segitu,” kata Vanda pendek.
Sebagai catatan jaminan produk tersebut bahkan lebih panjang dibandingkan di negeri asalnya, terutama bagi masa jaminan umum yg berlangsung selama tiga tahun di Indonesia dan cuma beberapa tahun di China.
Jebakan transmisi otomatis dan portofolio produk
Selain stigma buruk produk China yg lebih berada pada area perspektif, sesuatu tantangan yang lain yg belakangan menjadi nyata buat Wuling adalah ketiadaan transmisi otomatis pada produk debut mereka di Indonesia, Confero dan Confero S.
Hal itu berpotensi membuat Wuling mengalami nasib serupa Datsun GO+ –yang sempat merajai LCGC tujuh penumpang, namun tergerus habis saat Toyota Calya dan Daihatsu Sigra hadir bersama transmisi otomatis–, seandainya mereka ikut-ikutan keras kepala dalam urusan tak menjawab kebutuhan transmisi otomatis dari para pelanggannya.
Pihak Wuling memang tidak menjawab bagaimana potensi nasib buruk itu juga menimpa mereka, Brand Manager Wuling Motors Dian Asmahani memastikan pihaknya telah menyiapkan varian bertransmisi otomatis bagi produk mereka yg berikutnya.
Hal itu tak yang lain karena Confero dan Confero S yg di negeri asalnya bernama Hong Guang S1 memang tak memiliki platform bagi mengadopsi transmisi otomatis.
Meski tanpa transmisi otomatis, Wuling berhasil membukukan penjualan wholesale 2.212 unit selama Juli-September 2017, meskipun mereka baru resmi mengumumkan harga mereka pada 2 Agustus 2017.
Bahkan seandainya dirunut, Confero dan Confero S berhasil menumbangkan Mitsubishi Xpander pada penjualan bulan September 2017, meskipun pesaingnya milik modal besar sebagai jenama Jepang serta telah puluhan tahun berkiprah di Indonesia.
Pada September 2017, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) memperlihat Confero dan Confero S mencatatkan penjualan wholesale 1.391 unit dibandingkan Xpander 1.096 unit, padahal secara linimasa sejak pendirian pabrik, peresmian pabrik hingga penjualan kurang lebih bersamaan.
Angka tersebut boleh jadi menjadi modal besar buat Wuling Motors bagi menghadirkan produk-produk baru yg disebut oleh Presiden Wuling Motors, Xu Feiyun, pada pengumuman harga Confero dan Confero S yg disiapkan hadir tiga model lagi buat 2018.
Salah sesuatu model baru bakal dihadirkan pada Kuartal I-2018, yakni model yg disebut-sebut Dian bakal dilengkapi pilihan transmisi otomatis.
Belum terang apa produk yg mulai dihadirkan pada Kuartal I-2018 tersebut, dapat saja Confero dan Confero S bermesin 1.2L atau Baojun 730 yg bermesin 1.8L.
Apapun itu, selanjutnya cuma waktu yg dapat membuktikan keampuhan ramuan mereka meruntuhkan stigma buruk produk China, atau setidaknya merengkuh citra positif buat persepsi produk terhadap jenama yg memakai logo lima berlian berbentuk huruf W atau sayap tersebut.

Editor: Fitri Supratiwi

Baca :  Camry Dominasi Penjualan Hybrid Toyota Di Indonesia

COPYRIGHT © 2017

Sumber: http://otomotif.antaranews.com
Otomotif

Tags: #Otomotif

Leave a reply "Wuling Vs Stigma Produk China"

Author: 
    author